Berita
Menjadi Jurnalis Cilik Melalui Dauroh Literasi
Tanggal : 07/02/2022, 18:26:42, dibaca 171 kali.
Tulungagung- Pada tanggal 27 Juni sampai 2 Juli 2022 SD Islam Al Azhaar menyelenggarakan pekan daurah. Daurah kali ini memiliki varian yang beragam di antaranya, dauroh Yanbu'a untuk pengentasan jilid bawah, Bahasa Inggris & Bahasa Arab untuk mereka yang menyukai tantangan kebahasaan, Calistung bagi peserta yang belum lancar baca tulis, Matematika bagi yang suka berhitung dan Literasi bagi mereka yang suka hal-hal baru.
Dari beragam dauroh tersebut tentu menarik dikupas adalah daurah literasi. Daurah ini berbeda dengan lainya pasalnya peserta akan mendapat banyak materi seputar literasi dan pengembangan minat bakat. Hari pertama dan kedua dauroh ini diisi oleh Ustadz Anang Prasetyo, S. Pd (Guru Seni Budaya SMKN 3 Boyolangu). Beliau menyampaikan materi berupa membuat seni kriya dari barang bekas, belajar tembang dolanan, bercerita, membuat pohon silsilah, membuat puisi hingga melukis. Ustadz Anang yang juga seorang perupa Nasional memang sangat jago dalam membawa anak-anak ke alam imajinasi. Sehingga dari sana peserta bisa lebih diarahkan untuk memaksimalkan bakat minatnya.
Hari ketiga diisi oleh para pembimbing berkaitan dengan RTL yang diberikan Ustadz Anang.
Hari ke 4-5 diisi oleh Ustadz Woko Utoro dengan materi kejurnalistikan. Di materi kejurnalistikan inilah para peserta yang terdiri dari Ananda Fahri, Agan, Abi, Davin, Nadhifa, Zakiya, Shofia, Layyina dan Sabrina merasa sangat senang pasalnya di materi ini mereka lebih banyak prakteknya. Materi kejurnalistikan terdiri dari belajar menjadi reporter dengan membuat reportase berita, membuat draft wawancara, praktek wawancara, kliping foto, hingga menjadi news anchor atau pembaca berita.
Pada materi ini pula, Ustadz Woko memberi tips bagaimana menjadi pembaca berita yang baik, selain itu peserta juga diajak untuk mempelajari seputar kepenyiaran dan menjadi reporter lapangan. Beliau juga memberi materi berupa praktek membuat surat yang terdiri dari surat resmi dan surat pribadi. Setelah acara ini usai keesokan harinya dauroh literasi diisi dengan finishing karya sejak hari pertama hingga hari keenam.
Di sana para peserta menempelkan karyanya di majalah dinding yang diberi nama "Shof" yang berarti barisan. Mading tersebut tentu sebagai media ekspresi peserta selama mengikuti dauroh literasi ini.
Menurut Agan salah seorang peserta dauroh literasi memberi kesan menarik terutama ketika ia menjadi jurnalis cilik yaitu dapat ilmu baru soal kewartawanan. Baginya ini pengalaman baru sekaligus menantang utamanya soal mental dan kepercayaan diri bagaimana ia dapat mewawancarai narasumber.
Menurut Ustadzah Rima yang memiliki basic guru Bahasa Indonesia berharap bahwa acara serupa utamanya menjadi jurnalis cilik dapat dikembangkan lagi dengan tujuan menggali potensi santri di bidang literasi dan kejurnalistikan. Dengan acara semacam ini santri bisa lebih aktif, ekspresif, kreatif dan tentunya melatih percaya diri.
Di sesi terakhir yaitu penutupan, peserta berfoto bersama dengan karya mereka lalu acara ini pun berakhir. Semoga kita berjumpa lagi di lain kesempatan. Salam literasi.
Redaksi
Kembali ke Atas
Berita Lainnya : |
| Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas |
Komentar :
Kembali ke Atas


Total Hits
Hari ini
Member Online